PUI-KTKBM UNY Dorong Penerimaan Kendaraan Listrik di Perguruan Tinggi untuk Mendukung Net Zero Emission

Anggota PUI-KTKBM UNY menerbitkan kajian tentang strategi penerimaan kendaraan listrik pada civitas akademika perguruan tinggi sebagai dukungan terhadap transportasi rendah emisi dan agenda Net Zero Emission.

Yogyakarta – Transformasi menuju transportasi rendah emisi terus menjadi perhatian penting di berbagai sektor, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Isu Net Zero Emission (NZE) mendorong banyak institusi untuk mulai menata kembali pola mobilitas, penggunaan energi, serta kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perkembangan teknologi kendaraan listrik. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga dapat menjadi ruang awal untuk membangun budaya transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Perkembangan kendaraan listrik secara global menunjukkan tren yang semakin kuat. Dalam artikel yang diterbitkan, disebutkan bahwa International Energy Agency melaporkan penjualan mobil listrik global telah melampaui 17 juta unit pada 2024 dan meningkat lebih dari 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kendaraan listrik tidak lagi hanya dipandang sebagai inovasi teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengurangan emisi, efisiensi energi, dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Sejalan dengan isu tersebut, anggota Pusat Unggulan IPTEK Kajian Keselamatan Transportasi dan Kendaraan Bermotor Universitas Negeri Yogyakarta (PUI-KTKBM UNY) telah melaksanakan kajian akademik tentang penerimaan kendaraan listrik di lingkungan perguruan tinggi. Kajian tersebut diterbitkan dalam Jambura Industrial Review, Volume 6 Nomor 1, Mei 2026, dengan judul “Technology Acceptance Model: Analisis Intensi dan Adopsi Kendaraan Listrik pada Civitas Akademika Perguruan Tinggi.” Kajian tersebut ditulis oleh Kurniawan Sigit Wahyudi, I Wayan Adiyasa, dan Fajrin Sidiq Muzaffarul Zaman.

Kajian ini menggunakan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) untuk melihat bagaimana civitas akademika menerima kendaraan listrik sebagai bagian dari teknologi transportasi masa depan. Penelitian melibatkan 186 responden yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Variabel yang dikaji meliputi persepsi kemudahan penggunaan, persepsi kegunaan, intensi, dan adopsi kendaraan listrik.

Hasil kajian menunjukkan bahwa penerimaan kendaraan listrik sangat dipengaruhi oleh persepsi pengguna. Kendaraan listrik lebih mudah diterima ketika pengguna merasa teknologi tersebut mudah digunakan, mudah dipahami, bermanfaat, dan relevan dengan kebutuhan mobilitas sehari-hari. Temuan utama menunjukkan bahwa intensi atau niat menggunakan kendaraan listrik menjadi faktor paling kuat dalam mendorong adopsi kendaraan listrik. Artinya, keberhasilan penerapan kendaraan listrik di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada ketersediaan kendaraan atau teknologi, tetapi juga pada kesiapan, pemahaman, pengalaman, dan keyakinan pengguna terhadap manfaat kendaraan listrik.

Temuan ini memiliki dampak penting bagi perguruan tinggi. Kampus dapat menjadi laboratorium sosial untuk memperkenalkan kendaraan listrik secara lebih dekat kepada civitas akademika. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui edukasi kendaraan listrik, penyediaan informasi yang mudah dipahami, pengalaman langsung melalui uji coba kendaraan listrik, penguatan fasilitas pengisian daya, serta integrasi isu kendaraan listrik ke dalam pembelajaran, riset, dan kegiatan kemahasiswaan. Dengan cara tersebut, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan menuju transportasi rendah emisi.

PUI-KTKBM UNY memandang bahwa penerimaan kendaraan listrik perlu dibangun secara bertahap melalui pendekatan edukatif, teknis, dan kebijakan. Perguruan tinggi dapat mulai menyusun strategi transportasi kampus rendah emisi, seperti penyediaan area parkir kendaraan listrik, pengembangan stasiun pengisian daya, kampanye keselamatan dan efisiensi kendaraan listrik, serta penguatan riset-riset terapan di bidang teknologi otomotif berkelanjutan. Strategi ini penting agar agenda Net Zero Emission tidak berhenti pada wacana, tetapi mulai diterapkan melalui kebijakan dan kebiasaan mobilitas di lingkungan kampus.

Melalui publikasi ini, PUI-KTKBM UNY menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan kajian keselamatan transportasi, teknologi kendaraan bermotor, dan mobilitas berkelanjutan. Kajian penerimaan kendaraan listrik ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perguruan tinggi dalam merancang kebijakan kampus rendah emisi, memperkuat literasi kendaraan listrik, serta menyiapkan civitas akademika agar lebih siap menghadapi perubahan teknologi transportasi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. (KSW)